//
you're reading...
Culture, Relationship

Arriving Too Late, Leaving Too Soon

“Never be the last to leave a party. That’s for Debbies. ‘Debbies’ equals ‘desperate’”, begitu ungkap Paris Hilton di episode pertama Paris Hilton’s My New BFF, mengucap sebuah prinsip yang wajib dipegang teguh oleh mereka yang haus pesta, pergaulan, dan citra sebagai bintang paling bersinar dalam konstelasi pesta dan ajang pergaulan ibukota. Terapkan prinsip ini secara konsisten, bersama dengan “never be the first to arrive at a party”, dan anda dijamin akan tampak “penting” di mata biang pesta lainnya.

 

 

bff

 

Really? Mungkin tidak. Sepasang prinsip di atas dapat menjadi bumerang bila tidak anda terapkan secara hati-hati dan tepat konteks. Bilamana anda tak bersikap cermat dan sadar timing, anda justru akan dianggap tak menghargai orang lain. Mengapa begitu? Karena anda tidak berpesta dan bergaul dengan robot, melainkan dengan manusia yang juga memiliki penilaian yang bisa berubah.

 

 

Ada beberapa motif dari kedua prinsip di atas. Saat kita menerapkan keduanya secara sadar, kita memiliki ekspektasi bahwa orang lain akan melihat dan menilai kita sebagai sosok yang sibuk. Dengan kata lain, kita ingin melahirkan anggapan bahwa kehadiran kita juga dibutuhkan oleh banyak orang lain sampai-sampai kita sulit datang tepat waktu atau berlama-lama dalam sebuah acara. Selain itu, tidak menjadi orang pertama yang hadir di sebuah perkumpulan membebaskan kita dari rasa bosan dan kesal menunggu anggota lainnya yang terlambat. Siapa yang suka menunggu? Nobody. Siapa yang suka menjadi orang yang ditunggu-tunggu? Everybody.

 

 

Lantas mengapa bertahan di sebuah pesta hingga (menjelang) akhir membuat anda terlihat desperate? Well, to put it simply, that would make you look like you had nothing else to do. It would also make you look like you had a boring, meaningless life and staying in a party for as long as possible is the only way to satisfy your thirst for entertainment. Itu yang membuat anda terlihat desperate. Citra anda pun akan semakin jatuh bila anda bertahan meskipun orang-orang yang anda kenal telah meninggalkan pesta dan anda berusaha untuk nimbrung dengan sekelompok orang asing yang tersisa.

 

 

Bila anda memang hanya peduli pada pesta, pergaulan, dan citra sebagai biang pesta maka kedua prinsip tersebut patut anda pegang teguh. Namun kualitas relasi sosial selalu rentan terhadap fluktuasi. Persepsi orang lain akan anda sebagai orang “penting” dengan lingkaran pergaulan terluas dapat luntur sebagaimana toleransi orang lain terhadap keterlambatan dan keengganan anda untuk menghabiskan waktu lebih lama di suatu acara juga memiliki batas. Bila anda terus me-nomor-dua-kan relasi anda di bawah kebutuhan untuk tampil “penting”, pada akhirnya anda justru terlihat menyepelekan para teman anda dan pihak penyelenggara pesta.

 

 

OK, kalau kita hanya bicara soal pesta di club, dimana anda berdesakan dengan complete strangers dan anda tidak berkewajiban untuk datang pada waktu tertentu, maka kita tidak punya masalah. Namun datang terlambat telah begitu membudaya di Indonesia, bahkan telah di-cap sebagai karakter orang Indonesia (oleh orang Indonesia sendiri!). Datang terlambat, dan actually menganggap bahwa itu dapat terus dimaklumi, adalah gejala seorang yang tak bisa menghargai waktu dan kepentingan orang lain. Begitu orang lain menyadari bahwa anda lebih mementingkan citra diri dan status sebagai orang-yang-ditunggu di atas quality time bersama mereka maka anda tidak akan lagi menjadi penting. Siapa yang ingin berbagi momen dengan seseorang yang menganggap momen tidak tidak penting?

 

 

Kapan waktu yang tepat untuk tiba dan meninggalkan suatu acara sangatlah relatif terhadap kepentingan kita masing-masing. Menerapkan kedua prinsip Hiltonian di atas jelas dapat melambungkan status sosial kita. But in my opinion, penerapannya tidak tepat pada segala acara atau social gathering. Menerapkan prinsip tersebut saat kita bersama orang-orang yang lebih dari sekedar stranger atau kenalan-sambil-lalu justru dapat merusak hubungan sosial. Perhatian pada citra diri tidak perlu kita abaikan, namun kita harus tahu kapan perlu mendedikasikan quality time dengan orang-orang yang sesungguhnya penting. 

 

– Adhi Putra Tawakal –

  

Advertisements

About adhitawakal

A former Philosophy student who aspires to become a professional stylist/fashion editor while cultivating his skills as a public relations/social media practitioner.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: