//
you're reading...
Fashion

Prada Digs Deeper

Miuccia Prada adalah seorang perancang yang tanpa henti membuat para kritikus fesyen dan jurnalis berpegang teguh pada prinsip “expect the unexpected”. Prada sangat dikenal senang melakukan sesuatu untuk sebuah koleksi yang seolah merupakan antitesis dari koleksi sebelumnya. Tahun 2009 ini bukanlah pengecualian. 

 

Untuk Spring/Summer, musimnya para perempuan muda, Prada menampilkan koleksi yang seksi dan lady-like tanpa memproyeksikan perempuan sebagaimana mereka tampil di nightclub. Tak ada bling atau apapun yang menyiratkan gemerlap kehidupan urban, hanya sederet tampilan dengan elemen-elemen yang terkesan primitif, tak tersentuh modernitas: print kulit ular, kerutan pada kain, ketiadaan retsleting, dan warna-warna dasar seperti hitam dan coklat yang sangat dikuasai oleh Prada.

 

Apa antitesis dari itu semua? Bila anda berpikir sesuatu yang menandakan kehidupan kota, sarat teknologi dan pemujaan terhadap materi, maka anda salah besar. Prada justru bertahan di kawasan primitif untuk Fall/Winter 2009 (talk about unexpected, huh?), but there is a very interesting twist. Pakaian dan aksesori yang ditampilkan justru lebih “beradab”. Tak ada referensi terhadap suku tertentu, baik dalam print maupun potongan, melainkan sederet mantel, tops, dan rok yang masuk akal untuk dikenakan oleh para business woman di ruang rapat. Boots-nya adalah pengecualian. Mereka mungkin justru mengingatkan anda pada tukang ledeng.

 

“OK, lantas apanya yang tetap primitif?”, you might ask. The answer: the models who walked down the runway. Koleksi Spring/Summer 2009-nya mungkin tampil primitif, but the women were very civilized. Rambut mereka digelung dengan anting bandul kecil tergantung manis di telinga, mereka tampil formal dan sophisticated. One season later, the PRADA women look like cave women. Rambut mereka frizzy, kulit mereka pucat pasi, dan sorot mata mereka tajam, kosong dari segala empati (sebuah tampilan yang mengingatkan saya pada Stella Tennant). These women look savage and cannibalistic, as if violence is their only language and flesh is the only thing to satisfy their crave.

 

Koleksi ini memiliki pesan yang serupa dengan koleksi PRADA di Fall/Winter 2006: “female empowerment”. Namun jika di tahun 2006 Prada memproyeksikan perempuan yang sadar politik dan berdaya secara intelektual, di tahun 2009 ini Prada seolah bicara mengenai perempuan dengan keberdayaan yang “mentah”, siap menghadapi segala tantangan peradaban (seperti resesi global sekarang ini) tanpa perlu berbasa-basi soal idealisme politik. Perempuan 2009 ini seolah sudah muak dengan segala konseptualisasi dan pretensi moral. Yang tersisa adalah basic instinct dan hukum rimba, sebagaimana tema PRADA sendiri untuk Fall/Winter 2009 ini: survival.

 

Laksana Arkeolog (atau Paleontolog), Prada menggali lebih dalam. Tak puas dengan reruntuhan di tengah belantara, ia menggali kulit bumi, mencari apapun yang bisa dicanangkan sebagai akar dari kemanusiaan dalam bentuknya yang paling mentah. Mungkin itulah analogi yang tepat bagi koleksi yang kembali membuat para kritikus berdecak kagum ini. Sangatlah memuaskan bagaimana Prada berhasil menyuntikkan substansi filosofis pada koleksi yang tetap marketable.

 

– Taws Up! –

           

                

Advertisements

About adhitawakal

A former Philosophy student who aspires to become a professional stylist/fashion editor while cultivating his skills as a public relations/social media practitioner.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: