//
you're reading...
Fashion

Silver Lining in the Dark Clouds (bahasa)

Laksana kanker, resesi ekonomi tumbuh dengan cepat, semakin kuat dan luas. Department store berteriak dalam kepanikan dan keputus-asaan tatkala para pelanggan (potensial) menjadi kurang sensitif terhadap apa yang baru dalam fesyen dan bahkan kurang sensitif terhadap penampilan mereka sendiri. Orang-orang di kelas bawah dan menengah semakin tak memiliki anggaran untuk jaket, sepatu, atau pun tas ter-“panas”. Yang terpikir saat ini hanyalah bagaimana agar api kompor di rumah tetap menyala.

Jelas ini masa yang sulit, terutama bagi mereka yang hanya “mengoperasikan mesin”. Namun para kreator dan perancang justru melihat masalah dan kemiskinan sebagai sumber inspirasi untuk membakar kapasitas kreatif mereka. Dengan segera para perancang busana beradaptasi dan menerjemahkan masa yang mencekat ini dalam koleksi-koleksi yang mungkin belum pernah terlihat sebelumnya.

Saat beberapa perancang lain yang lebih intelektual merepresentasikan visi mereka dalam bentuk yang paling mentah (perempuan yang tampak ganas dalam mantel serba-bisnis di PRADA, misalnya), Frida Giannini di GUCCI memiliki opini lain.

Koleksi Fall/Winter 2009-nya memiliki edge dan sekian dosis keseriusan di dalamnya. Tak ada yang manis ataupun girly diantara parade leather, sequin, dan mini dress dengan fabric yang flashy dan form-hugging di runway GUCCI. Namun para perempuannya juga tidak terlihat maskulin ataupun kaku. Anda dapat dengan mudah membayangkan mereka berpesta di club, setelah menyingkirkan dokumen dan kontrak kerja saat office hour berakhir.

Personalitas Giannini, seperti biasa, terasa kuat dalam koleksi ini. Ia masih bermain dengan print, kali ini yang geometris seperti stripes dan lingkaran-lingkaran yang kadang terlihat tidak proporsional, namun ia tidak membiarkannya mendominasi koleksi glam rock cum disko ini. Monokrom dan keseksian terhampar dimana-mana, seolah Tom Ford kembali untuk sejenak. Apa yang membuat Giannini berbeda adalah less skin exposure dan, secara mengejutkan, jumlah gaun malam yang lebih sedikit meski itu selalu merupakan teritori GUCCI (kecuali anda menganggap clubbing lewat tengah malam sebagai “evening occasion”).

Setelan “Frida”, yang telah hadir sejak Giannini mengambil alih posisi Alessandra Facchinetti sebagai Creative Director GUCCI, juga ada di koleksi ini. Produksinya yang tak berkesudahan sepanjang era Giannini mungkin mulai membuat para kritikus, yang telah menunggu dengan tak sabar untuk sesuatu yang unexpected dan out-of-the-GUCCI-box, bosan. Namun apa yang realistis ditakdirkan untuk bertahan, dan setidaknya setelan “Frida” tersebut dapat dianggap sebagai GUCCI signature yang baru disamping tas-tas dengan handle bambu dan Monogram GG yang kini telah kehilangan daya otentisitasnya setelah banyak dipalsukan. Apa lagi alasan bagi GUCCI untuk tetap menjual setelah tersebut?

Saya masih percaya bahwa Giannini telah menetapkan formulanya untuk Spring/Summer: print sarat warna dan bentuk yang lady-like. Lihat kembali ke empat koleksi Spring/Summer terakhir dan anda dapat memprediksi hampir secara akurat apa yang akan hadir untuk 2010. Namun prediktabilitas itu seolah tak berlaku saat pakaian harus menebal.

Di Fall/Winter 2006 ada perempuan disko ’70-an di runway GUCCI, kemudian jetsetters di 2007 dengan tampilan yang sangat clean dan polished. Pada tahun 2008 Giannini membelokkan GUCCI ke arah yang tak terduga, hampir idiosyncratic menuju sebuah versi mewah dari folk dan country. Sekarang ini seolah ia telah turun dari sadel, berkendara dalam sports car berkecepatan tinggi, menuju club paling happening. Jelas bukan sebuah kandang untuk kuda dan kaum hippie. Mungkin Giannini telah menjadwalkan Fall/Winter sebagai saat untuk bermain dengan gagasan lain, tanpa melupakan komersialisme tentunya.

Betul, setiap orang terhimpit oleh krisis ekonomi, bahkan kaum super-kaya dunia yang konon kedap-resesi hingga derajat tertentu. “Sale” kini adalah pandangan yang biasa dan dinanti, namun tragis untuk luxury industry yang enggan turun dari singgasana eksklusifnya. Lantas bagaimana Giannini menjaga margin GUCCI positif tanpa menggunakan the “S” word? Bersikap realistis, tentu, dan tak pernah melupakan bahwa “luxury” secara literal berarti segala sesuatu yang bercahaya.

Tepatnya koleksi Fall/Winter 2009 GUCCI adalah itu: tampilan bercahaya, penuh percaya diri yang menempatkan perempuan dalam mood yang seksi. Pesan dari koleksi ini jernih: hanya karena kita hidup di masa yang depresif tidak berarti kita perlu merasa atau, lebih buruk lagi, terlihat depressed. Mengurai berbagai problem dapat dilakukan dengan cara yang menjaga segala sesuatunya fun dan setiap orang dalam mood yang bagus. However dark the clouds, there’s always a silver lining. This collection just might be it.

– Taws Up! –

Advertisements

About adhitawakal

A former Philosophy student who aspires to become a professional stylist/fashion editor while cultivating his skills as a public relations/social media practitioner.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: